ELOHIM Abraham, Ishak, Yakub dan kita saat ini adalah YEHOVA JIREE artinya “TUHAN yang menyediakan” segala sesuatu untuk manusia dan takkan kekurangan bagi umat yang percaya kepada-Nya (Mzm. 23 : 1 - 6). Manusia tidak pernah kekurangan apa-apa karena Sang Pencipta telah menyediakan segala-galanya untuk memenuhi kebutuhan hidup yang fundamental (pokok/mendasar) bagi manusia pada umumnya dan khususnya bagi Gembala dalam pelayanan yang telah dipercayakan TUHAN kepadanya. Tetapi akan menghadapi kebutuhan ekonomi fundamental bagi Gembala dalam pelayanan, ketika kita tidak mengembangkan dan mengelola apa yang TUHAN telah fasilitasi kita dalam segala bidang. Berikut ini penulis menguraikan tiga hal; pertama, TUHAN menyediakan tanah bagi kelangsungan hidup manusia; kedua, TUHAN menyediakan lingkungan alam atau lingkungan hidup untuk kelangsungan hidup manusia; dan ketiga, harta benda atau kekayaan sebagai anugerah TUHAN bagi kelangsungan hidup manusia, antara lain :
Rabu, 30 Desember 2009
A. PENDAHULUAN
ELOHIM Abraham, Ishak, Yakub dan kita saat ini adalah YEHOVA JIREE artinya “TUHAN yang menyediakan” segala sesuatu untuk manusia dan takkan kekurangan bagi umat yang percaya kepada-Nya (Mzm. 23 : 1 - 6). Manusia tidak pernah kekurangan apa-apa karena Sang Pencipta telah menyediakan segala-galanya untuk memenuhi kebutuhan hidup yang fundamental (pokok/mendasar) bagi manusia pada umumnya dan khususnya bagi Gembala dalam pelayanan yang telah dipercayakan TUHAN kepadanya. Tetapi akan menghadapi kebutuhan ekonomi fundamental bagi Gembala dalam pelayanan, ketika kita tidak mengembangkan dan mengelola apa yang TUHAN telah fasilitasi kita dalam segala bidang. Berikut ini penulis menguraikan tiga hal; pertama, TUHAN menyediakan tanah bagi kelangsungan hidup manusia; kedua, TUHAN menyediakan lingkungan alam atau lingkungan hidup untuk kelangsungan hidup manusia; dan ketiga, harta benda atau kekayaan sebagai anugerah TUHAN bagi kelangsungan hidup manusia, antara lain :
B. TUHAN MENYEDIAKAN TANAH BAGI KELANGSUNGAN HIDUP MANUSIA.

Tanah ungkapan lain ialah “Eret” atau ”bumi”. Tanah adalah ciptaan TUHAN (Kej. 1 : 1). Tanah, diciptakan TUHAN pada hari pertama sebelum segalanya. Tanah sebagai tempat tinggal bagi manusia, tanah mempunyai arti yang fundamental (pokok) yang hakiki (yang pokok/kebenaran yang paling mendasar) bagi manusia. Tanah dijadikan oleh TUHAN sesuai dengan kemahatahuan-Nya, supaya manusia menjaga dan mengelola seisinya. Dalam suatu diskusi dengan seorang mahasiswa STT-Walter Post, yakni Menny Yogi mengatakan bahwa :
”Hubungan manusia dengan TUHAN sangat erat, karena manusia berasal dari debu dan kita ini bagian dari tanah sesuai dengan Kej. 1 : 7 untuk itu kita dapat mengangkat dan menghargai tanah, dan janganlah kita biarkan begitu saja secara polos kepada orang lain (Iblis). Kini masyarakat belum mengerti dan tidak peduli terhadap tanah, (Yogi, Asrama STT-WPJ, 28 April 2003).
Tanah sebenarnya bagian dari hidup manusia. Manusia hidup di atas tanah, manusia diciptakan oleh TUHAN dari tanah liat manusia juga hidup karena selalu menikmati hasil tanah dan akhirnya setelah manusia mati kembali menjadi tanah. Sebagaimana Karel Pill Errary menuliskan bahwa : ”Tanah Bukan milik manusia melainkan manusia adalah milik tanah” (1999 : 83), berarti bahwa manusia ada hubungan yang erat dengan tanah sebagai ciptaan TUHAN.
Tanah menurut filsafat suku Mee adalah ”MAMA” yang memberikan air susu kepada anaknya (manusia). Sebagai MAMA, ia menumbuhkan pepohonan, tumbuh-tumbuhan, tanaman, dan memelihara makhluk hidup yang ada di dalam air, di udara maupun di darat. Sebagai ”mama”, ia juga menyimpan dan menyembunyikan kekayaan alam atau barang yang berharga di dalam tanah, seperti: emas, mutiara, perak, tembaga, nikel, batu delima, batu permata, gas bumi/minyak bumi, dsb. untuk kelangsungan hidup manusia di bumi ini.
Belakangan ini tanah dijadikan sebagai objek bisnis dengan cara menjual beli sebidang tanah. Paling perlakuan ini dilakukan oleh orang Gereja Kemah Injil dan berkata: ”bukan kita disini tempat tinggal yang tetap, tetapi tempat kita adalah kota yang akan datang”. Ungkapan lain berkata bahwa ”kita tidak perlu sibuk dengan barang-barang duniawi tetapi sibuk untuk hal-hal yang surgawi”. Bumi yang kita hidup merupakan tempat kita dapat makan, minum, dan bumi sebagai tempat untuk manusia bertobat. Karena itu dipahami Warga Jemaat Klasis Wagamo, bahwa janganlah menjadikan objek bisnis untuk menjual belikan. Jika menjual tanah berarti menjual mama, mama berarti yang memberikan air susu sepanjang rentang garis keturunannya. Di dalam Alkitab Perjanjian Lama, TUHAN Pencipta tanah tidak mengijinkan untuk menjualbelikan, dalam Imamat 25:23 berfirman bahwa : ”Tanah jangan dijual mutlak, karena Akulah pemilik tanah itu, dan sedang kamu adalah orang asing dan pendatang bagi-Ku”. Jika kita simpulkan bahwa kalau kita menjual tanah berarati kita berdosa terhadap Pemilik tanah, karena Pemilik tanah tidak mengijinkan untuk dijual atau dijadikan objek bisnis.
Pada prinsipnya Yohanes 1 : 1, Kejadian 1 : 1. Pada mulanya ELOHIM menciptakan langit dan bumi serta segala isinya. ELOHIM menciptakan manusia dari debu tanah sesuai dengan Imagodei-Nya (Gambar/wujud-Nya) sendiri Kejadian 1 : 26 - 27. Kalau manusia itu berasal dari debu tanah, maka hidup manusia tidaklah terlepas dari tanah. Kemudian relasi manusia dengan tanah sangat erat. Pdt. Dr. Benny Giay dan Yafet Kambai menuliskan tentang riwayat hidup Yosepah Alomang dan ia mengatakan :
”Saya orang pribumi disini gunung salju disitu saya punya tempat lahir saya disini. Paitua ini orang dari suku Bela Alama disana, saya bilang kepada dia, tanah ini tidak boleh dijual. TUHAN ciptakan tanah ini untuk hak pakai, bukan untuk dijual”. (Benny dan Kambai, 2000:21).
Apa yang dikatakan ini benar karena tanah yang kita tumpangi bukan jual, melainkan hak untuk dipakai. Sangat mengatasi bahwa tanah sebagai lambang untuk kita dibesarkan, dipiara membawa kita dalam keberhasilan, berarti tanah sebagai ” MAMA” sebab mama sebagai pemberi kehidupan, yang memberi air susu dan dipelihara, dibesarkan diatasnya, manusia hidup diatasnya, melakukan sesuatu pekerjaan diatas tanah dan sebagainya. Karena itu memahami, mengerti, serta menyadari bahwa tanah kita, hidup kita, itu sebabnya tanah mempunyai fingsi yang cukup luas. Dapat disimak dalam penulisan ini bahwa : ”Barangsiapa menjual tanah, ia adalah seorang YUDAS. Apabilah niat-niat tertentu yang bermusuhan dengan tanah maka segera berdamai kembali sebab tanah adalah mamamu.”
Tanah ini dijadikan sebagai suatu tempat dimana Warga Gereja mengadakan usaha untuk dapat memproduksikan hasilnya untuk mendatangkan sesuatu yang dapat menolong serta mengantar kita dalam memenuhi kebutuhan ekonomi gembala dan pelayanan Sosial ekonomi bagi Jemaat yang perlu ditolong maupun pribadi dan keluarganya seperti kata Firman TUHAN:
”... bumi ini telah diberikan-Nya kepada anak-anak manusia. Dari satu orang saja Ia telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia untuk mendirikan seluruh muka bumi dan Ia telah menentukan musim-musim bagi mereka dan batas-batas kediaman bagi mereka” (Mazmur 115:16; Kisah Para Rasul 17 : 26).
Ayat tersebut di atas ini menunjukkan bahwa TUHAN telah membagi-bagikan wilayah ditempat kerja masing-masing, untuk mencari Dia di atas tanah, hidup di atas tanah. Lihatlah tanahmu sebagai mana anda, sebab itu bagian hidup kita di bumi.
By: Pekeibo Senior
C. TUHAN MENYEDIAKAN LINGKUNGAN ALAM ATAU LINGKUNGAN HIDUP UNTUK KELANGSUNGAN HIDUP MANUSIA.

Lingkungan alam menurut Kamus Bahasa Indonesia menuliskan bahwa : ”Segala yang ada di langit dan di bumi, linghkungan kehidupan, sesuatu yang termasuk di lingkungan (golongan dsb.) dan dianganggap sebagai keutuhan pikiran tumbuh-tumbuhan”, (2001 : 25). Maksud dalam tulisan ini adalah bahwa lingkungan termasuk tumbuh-tumbuhan dan hewan-hewanan (flora dan fauna) yang ada di atas bumi merupakan ciptaan TUHAN yang unik (indah) untuk menunjang kebutuhan hidup manusia.
Kepekaan (keseriusan) orang tua terhadap lingkungan alam selain melestarikan (memelihara), tetapi juga sebagai ekonomi yang diharapkan sebelumnya, mulai dieksploitasi (pengurangan) lingkungan alam dengan berbagai cara. Kuras (pengurangan/habis sama sekali) lingkungan alam seperti kegiatan penebangan secara liar, pembakaran serta kerusakan lainnya adalah kejahatan manusia terhadap alam ciptaan TUHAN dan secara tidak sadar sedang membinasakan dirinya karena lingkungan hidup adalah bagian hidup manusia. Seperti yang dikatakan oleh James Maginnis bahwa :
”Tindakan tanpa kekerasan lebih luas daripada membiarkan orang hidup dengan tindakan tanpa kekerasan pertama-tama bersikat terhadap alam, langit, laut, tambang, udara, air dan rumah. Inilah barang-barang pertama yang harus dilengkapi tanpa kekerasan. Sungguh dosa yang mengerihkan yang anda perbuat di sekeliling anda, dan yang tidak tahu apakah anda masih diselamatkan atau tidak. Anda telah memperkosa hutan-hutan, mengotori laut, menjorah raja segala sesuatu seperti segerombolan bandit (penjahat/perusak), kalau ada kejadian langit atau laut ... anda semua atau hampir semua akan dihukum mati dan barangkali ada keadilan seperti itu. Pengadilan yang takterlihat. Sebab hukuman anda pasti anda tidak dapat bernafas menghirup udara anda. Makanan anda menjadi tidak sehat, kanker semakin mulai seru dan sering menyerang anda. Dan karena anda hampir sudah merusakkan segala-galanya anda telah menunjukkan berbagai santo (orang suci [laki-laki]) pelindung lingkungan anda harus mengaku”, (Maginnis, 1999:159).
Ungkapan dalam tulisan di atas menjadi kenyataan terhadap alam lingkungan ekslpoitasi terhadap lingkungan alam dapat dilaksanakan dengan cara seizin pemilik lokasi yang sedang mengawasi dan menjaganya. Dengan sikap dan tindakan ini orang memiskinkan orang lain yang adalah pemilik lingkungan akan menunjang peningkatan ekonomi dalam keluarga serta masyarakat.
Penulis ingatkan tindakan ELOHIM waktu air bah di zaman Nuh bahwa ketika air bah itu datang, berfirmanlah TUHAN kepada Nuh: ”Masuklah ke dalam bahtera itu, engkau dan seisi rumahmu, sebab engkaulah yang Kulihat benar di hadapan-Ku di antara orang zaman ini. Dari segala binatang yang tidak haram haruslah kauambil tujuh pasang, jantan dan betinanya, tetapi dari binatang yang haram satu pasang, jantan dan betinanya; juga dari burung-burung di udara tujuh pasang, jantan dan betina, supaya terpelihara hidup keturunannya di seluruh bumi. Dari segala yang hidup dan bernyawa datanglah sepasang mendapatkan Nuh ke dalam bahtera itu. Seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Nuh; lalu TUHAN menutup pintu bahtera itu di belakang Nuh.” (Kejadian 7:1-24). TUHAN adalah Penyelamat lingkungan alam atau lingkungan hidup. Oleh kejahatan manusia telah membangkitkan amarah TUHAN, tetapi Ia tidak musnahkan segala yang hidup dan bernyawa bersama-sama dengan air bah, masih mengasihi manusia dan lingkungan hidup yang adalah pemenuhan kebutuhan manusia pada umumnya dan kususnya Gembala dalam pelayanan TUHAN sehingga diselamatkan-Nya.
Penulis melihat suatu kasus yang pernah terjadi Klasis Wagamo baru-baru ini. Dengan adanya kedangan pengguna kayu dari berbagai bagian Tigi maupun masyarakat setempat menebang segala macam kayu baik yang besar maupun yang kecil yang belum sampai umur panen, menganggap bahwa tidak perlu melestarikannya karena itu adalah pohon atau tumtuh-tumbuhan liar bahkan kalau kita tebang, maka akan tumbuh kembali di alam lingkungan. Belum sadar bahwa TUHAN Pencipta telah memberikan mandat kepada kita untuk menjaga, memelihara, menyelamatkan dan melestarikan alam lingkungannya sebagai alat kelangsungan hidup manusia. Maka kini mulai terjadinya kerusakan lingkungan alam di tengah-tengah masyarakat dan Gereja Klasis Wagamo. Jika tidak ada kesadaran dari masyarakat Klasis Wagamo, maka akan menyebabkan kepunaan hutan akan terjadi dan mengakhibatan tanah gundul (botak) dan gersang. Dan hal itu mengundang menambahnya kebutuhan ekonomi Gembala dan Umat TUHAN di Klasis Wagamo Koordinator Paniai Selatan.
Sikap kita terhadap alam lingkungan yang diciptakan oleh ELIHIM sebenarnya adalah sangat relevan (bersangkut paut/sesuai), dengan maksud yang besar kepada manusia. Hubungan antara manusia dengan lingkungan alam sebenarnya tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lain. Berarti bahwa alam yang sangat besar ini diciptakan oleh TUHAN untuk manusia. Sebaliknya juga bahwa tidak mungkin TUHAN lebih dulu menjadikan bumi bila tidak ada rencana ELOHIM untuk menciptakan manusia dari tanah yang telah dijadikannya itu. Karena dibalik itu Ia memberi tugas kepada manusia sebagaimana A. A. Sitompul menuliskan:
”Hubungan manusia dengan alam sekitarnya sangat erat, bahkan dari pandangan ekologi tentang manusia dapat dikatakan bahwa manusia itu bergantung dari alam untuk hakekat (sebenarnya/sesungguhnya) esensi (pokok/hakikat) keberadaannya” (Sitompul, 2000 : 2).
Hubungan kita dengan lingkungan alam merupakan relasi (hubngan/pertalian) yang sangat sukar dipisahkannya, karena manusia mengalami kemanusiaan pun juga tubuh tetap kembali kepada alam ciptaan-Nya seperti Sitompul menuliskan bahwa:
”TUHAN mengangkat manusia dari segala ciptaan-Nya dan memberikan mandat kepadanya agar bertangggung jawab dihadapan TUHAN, kuasa yang diberikan-Nya itu dinyatakan sebagai berikut: ”taklukkanlah bumi, berkuasalah atas segala ...” Kejadian 1 : 28. Manusia diberi tugas untuk menata hidup baru, memberi makna bagi setiap makluk hidup, mengatur, membiakkan, mengelolah alam, menempatkan makluk hidup seperti ditempat dan menyediakan makanan yang membuat kelangsungan hidupnya. Tanggung jawab terhadap makluk hidup dan yang tidak hidup”, (Sitompul, 2000 : 3).
Alam ciptaan mengandung misterius (rahasia) yang sangat besar kaitannya dengan kelangsungan hidup manusia agar manusia mengelola, menata, dan melestarikan. Karena itu lingkungan alam yang terjadi ini merupakan kebutuhan kehidupan manusia yang unik. Kaitannya dengan gambaran umum di atas, penulis mencatat bahwa orang yang membongkar hutan dengan kesengajaan maupun tidak sengaja, secara sembarang dengan cara di bakar dan ditebang merusak apa yang diciptakan TUHAN itu dikategorikan sebagai orang-orang yang mengurangi ciptaan TUHAN yang unik bagi manusia. Untuk itu Gereja khususnya Klasis Wagamo harus dapat memahami terhadap apa tugas kita di bumi ini. Ia diberi tugas terhadap lingkungan alam ini seperti yang dikatakan oleh Alyanus Larosa:
”ELOHIM menugaskan manusia untuk mengusahakan dan memelihara alam semesta, Kejadian 2 : 25. Mengusahakan berarti memamfaatkan alam untuk kebutuhan kesejahteraan manusia. Memelihara berarti menjaga agar alam tak hancur, melainkan tetap lestari. Karena itu sebagai Gereja dipanggil untuk mewujudkan visi sosial dalam mengusahakan dan memelihara alam semesta ini, suatu perintah TUHAN bagi kita”, (Larosa 2001 : 85).
TUHAN menciptakan manusia dengan maksud tertentu yaitu memberikan tugas dan tanggung jawab terhadap alam lingkungan, memelihara. Jika demikian sebagai orang Kristen melihat dengan kaca mata iman Kristen terhadap lingkungan dengan visi yang jelas, bahwa lingkungan alam yang kita mendapat penghidupan adalah bagian dari ciptaan ELOHIM dan kepentingan manusia, lebih lagi hasilnya memenuhi kebutuhan ekonomi Gembala dalam pelayanan pemberitaan Firman TUHAN dan pelayanan sosial Jemaat. Dalam pengawasan pemeliaharaan lingkungan alam di atasi dengan berbagai kewajiban sesuatu yang dikatakan oleh John Stoot bahwa:
”Manusia mematuhi perintah ELOHIM suatu memenuhi dan melakukan bumi pada awalnya kemajuannya lambang. Dari mengumpulkan makanan ia beranjak meningkat menjadi petani, ia belajar mengelolah lahan, melindungi dengan daerah yang sudah dikelolanya itu hasilkan bumi untuk memberi pangan, sandang, binatang-binatang mamfaatnya untuk keperluannya dengan tujuan baik meringankan maupun menyenangkan hatinya. Lalu ia belajar mengetahui rahasia kekuatan-kekuatan yang tersimpan dalam benda-benda dan zat-zat alam yang diciptakan oleh ELOHIM”, (Stott, 2000 : 152).
Dengan maksud ELOHIM yang besar ini agar manusia menaati perintah-Nya terhadap pengawasan dari pemeliharaan lingkungan alam, untuk mengangkat nilai-nilai Kerajaan TUHAN dapat menghadirkan di bumi. Kasiat (manfaat yang khas yang terkandung di dalamnya) TUHAN berkaya terus dalam ekosistem yang bertumbuh dialah alam ini. Jika ada kerusakan alam lingkungan maka ada perlu visi untuk revitalisasi penghijauhan; sebagaimana Celia Dealne Droummond menuliskan bahwa:
”Pendekatan itu masih mendorong memperlakukan ciptaan sebagai sumber daya untuk ditata bagi kepentingan manusia Teolog-Teolog yang radikal (keras/kokoh/maju dan tajam dalam berpikir) berpendapat bahwa pengembalian suatu gaya hidup yang menghardik mencintai lingkungan untuk kepentingan pribadi lingkungan sendiri, merupakan bagian dari apa yang dimaksudkan sebagai gambar ELOHIM”, (Droummond, 2000 : 153 - 154).
Penjelasan di atas ini ada kaitannya dengan umat TUHAN Klasis Wagamo, agar mendorong untuk menghargai dan mencintai lingkungan alam merupakan bagian dari hidup yang tidak terlepas dari manusia. Untuk itu bagaimana visi Gereja hari ini, seperti Drouce Mitchell B. Setiawan Dwita Hadi Rahuni menuliskan : ”Disinilah letaknya bahwa tindakan yang diperlukan oleh pengelolah mesti, sesuatu yang dapat mencapai pemahaman yang terus merubah sekaligus tujuan sosial yang diinginkan”, (S. Dan Rahuni, 2000 : 235).
Ke depan ada dalam visi anda terhadap apapun yang diperbuatnya. Untuk itu dalam tulisan ini penulis menuliskan bahwa jika Gembala dan Pemimpinan Gereja lupa terhadap kepedulian lingkungan alam, maka perlu memiliki empat dimensi:
a. Bukalah mata terhadap alam lingkungan;
b. Jika ada niat jahat yang berusaha merusakkan lingkungan alam sadarlah kembali;
c. Jika ada konflik dengan lingkungan segera berdamai kembali;
d. Lalu menerima dan menghargai, cintai terhadap lingkungan alam sebagai bagian dari hidup.
By: Pekeibo Senior
D. HARTA BENDA MERUPAKAN PEMBERIAN TUHAN UNTUK KELANGSUNGAN HIDUP MANUSIA

Harta benda merupakan suatu barang dan jasa atau kekayaan yang dimiliki oleh setiap insan sebagai anugerah TUHAN bagi kelangsungan hidup manusia di atas dunia ini. Memiliki harta benda dan kekayaan tanpa memuliakan TUHAN dan tidak mengasihi sesamanya juga mengandung dosa sebagai mana tertulis di dalam Injil Lukas 16 : 18 – 27 ”Orang kaya sukar masuk Kerajaan TUHAN”, pasal 23 : 13 – 21 ”Orang kaya yang bodoh”, dan Lukas 16 : 19 – 31 ”Orang kaya dengan Lazarus yang miskin”.
Bukan berarti bahwa jikalau kita memiliki kekayaan, maka kita sukar masuk surga seperti orang kaya yang tadi. Tetapi yang dikatakan disini ialah bahwa karena orang kaya mengandalkan kekayaan dan kekuatannya sebagai sumber kehidupan sehingga melupakan TUHAN pemiliknya yang harus ditinggikan, dimuliakan, dibesarkan dan diterima dengan ucapan syukur bagi-Nya. TUHAN menguji iman orang kaya, :
”Kata YESUS kepadanya: ’Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku’. Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya”, (Matius 19 : 21, 22).
Ternyata TUHAN menemukan iman orang kaya itu bergantung dan mendasarkan kekayaan sebagai sumber kehidupannya.
Tidak seperti perwira dari Kapernaum yang iman dan perbuatan kasihnya disaksikan oleh tua-tua Yahudi kepada TUHAN YESUS dan YESUS sendiripun juga heran atas perkataan iman perwira itu, bahwa :
”... perwira itu menyuruh sahabat-sahabat untuk mengatakan kepada-Nya: ’Tuan janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku; sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu. Tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku akan sembuh. .... ’ Setelah YESUS mendengar perkataan itu, Ia heran akan dia, dan sambil berpaling kepada orang banyak yang mengikuti Dia, Ia berkata: ’Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel!”. (Lukas 7 : 1 - 10).
TUHAN YESUS tidak menemukan iman perwira dari Kapernaum itu bergantung dan mendasarkan kekayaan atau kedudukan dan pangkatnya sebagai sumber kehidupannya, tetapi seluruh kehidupan perwira itu lebih mengutamakan dan mentaati TUHAN daripada kekayaan atau kedudukan dan pangkatnya.
Pikiran yang memikirkan bahwa orang kaya sukar masuk Kerajaan TUHAN, pikiran seperti itu ditipu oleh Iblis, karena dia mencari lowongan baginya untuk mencobai dan menjatuhkan kita dalam kekurangan dan kemiskinan, supaya pada waktu kita tidak ada apa-apa, ia akan mendatangkan keinginan, jika keinginan itu berbuah maka akan melahirkan maut. Kekayaan yang dimiki oleh manusia yang percaya kepada YESUS atau Warga Gereja adalah pemberian TUHAN yang mengandung maksud tertentu seperti untuk memuliakan Nama TUHAN. Untuk lebih memuliakan TUHAN melalui harta yang kita peroleh dalam usaha dan pekerjaan kita, sebaiknya kita mengikuti cara-cara menghadapi masa-masa kekacauan perekonomian, hal itu seperti yang disarankan Larry Bathes bahwa :
”Akan tetapi kita memilih pilihan. Kita memiliki peluang untuk melindungi diri kita sendiri, bahkan menjadi berhasil (berlimpahan) di masa-masa kacaunya perekonomian, peluang itu adalah pengetahuan-pengetahuan bagaimana sistim ekonomi telah berkembang menjadi begitu rapuh (sudah rusak/sakit-sakitan) dan pengetahuan-pengetahuan tentang komponen-komponen pribadi mencakup di dalam sistem tersebut. Anda harus mengetahui bagaimana tidakan-tindakan sederhana dilindungi harta yang diberikan TUHAN kepadamu dan menjamin masa kedepan keuangan anda. Anda dan kelurgamu lebih stabil pengetahuan akan menjadi kunci kelangsungan hidup di masa kegoncangan”, (Bathes, 1998 : 146).
Seperti yang dikatakan oleh L. Bathes tersebut di atas sangat benar, tentang kesempatan bagaimana orang berpengetahuan mengerti, serta tindakan kita terhadap bagaimana cara mengembangkan harta benda kekayaan yang TUHAN berikan kepada warga Gereja di Klasis Wagamo. Penulis sangat mendukung dengan suatu gambaran yang diutarakan oleh Bathes, karena harta benda kekayaan itu tidak mempunyai mulut, pikiran, dan tangan, tetapi itu adalah suatu benda mati dan tidak berdosa. Melainkan mendatangkan baik buruknya atau mengundang surga dan neraka terletak pada manusia bagaimana cara memanfaatkannya.
Tidak berdosa, jikalau sebagian besar alam ciptaan TUHAN, Bapak kita menjadi milik kita. Malah itulah yang dikehendaki oleh TUHAN yang kita sebut ”Bapak” karena semuanya ciptaan ”Bapak kita” dan telah memberikan mandat kepada kita untuk menguasai, menata, mengelola dan menikmati dari hasil ciptaan TUHAN ”Bapak kita” itu. Tidak sangkut-paut dengan masuk surga atau neraka. Tetapi aku berdosa dan tidak akan masuk surga, ketika aku menjadikan alam ciptaan TUHAN menjadi dasar kehidupan dengan jalan melupakan TUHAN Pencipta.
Dari semua kekayaan yang dimiliki itu mengucap syukur dan rasa terima kasih atas berkat TUHAN yang telah diberikan sebagai sarana menunjang kebutuhan ekonomi Gembala di dalam pemberitaan Injil Klasis Wagamo dan di dalam kehidupan pribadi, keluarga, dan orang lain yang menunggu uluran tangan kita. Celaka yang paling berat akan dialami bagi mereka yang tidak mengandalkan TUHAN tetapi mengandalkan kekayaannya sekalipun ia mengatakan di mulutnya warga Gereja atau orang Kristen hatinya jauh, maka kata Firman TUHAN :
”Celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena kekayaan kamu telah memperoleh penghiburan”, Lukas 6 : 24. ”Tetapi haruslah engkau ingat kepada TUHAN, ELOHIM-mu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan, dengan maksud meneguhkan perjanjian yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, seperti sekarang ini. Tetapi jika engkau sama sekali melupakan TUHAN, ELOHIM-mu, dan mengikuti allah lain, beribadah kepadanya dan sujud menyembah kepadanya, aku memperingatkan kepadamu hari ini, bahwa kamu pasti binasa; seperti bangsa-bangsa, yang dibinasakan TUHAN di hadapanmu, kamu pun akan binasa, sebab kamu tidak mau mendengarkan suara TUHAN, ELOHIM-mu." Ulangan 8 : 18 – 20.
Sebagai anak-anak TUHAN Gembala Sidang dan Anggota Jemaat yang digembalakannya perlu menyadari bahwa sungguhpun mempunyai kekayaan yang berlimpah atau tidak memiliki sesuatupun dalam usaha hidupnya sehingga menimbulkan kebimbangan hari esok hidupnya sekalipun, harus ada di dalam hatinya bahwa: ”namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan KRISTUS yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak ELOHIM yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku”, (Galatia 2 : 20). Itulah yang TUHAN mau dari kita.
Sikap ketidakpedulian kita sebagai pemegang Gereja terhadap harta kekayaan selalu mempengaruhi maju mundurnya Gereja kini dan kedepan di Klasis Wagamo. Karena pertumbuhan Gereja dapat mempengaruhi dengan faktor jasmani. Hal itu sebagaimana J. S. Abineno menuliskan bahwa :
”Hidupnya bukan saja ia hidup di bidang ’rohani’ Religius tetapi juga di bidang ’jasmani’ (politik, sosial, kebudayaan, pendidikan, dll). Karena itu keduanya tidak boleh dipertentangkan dan meganggap di bidang lain. Hal ini jelas kita lihat dalam Doa Bapa Kami. Di Sorga dan di Bumi, ELOHIM dan Manusia, rohani dan jasmani, erat kebudayaan”, (Abineno, 1998 : 141 – 142).
Di dalam kehidupan Warga Gereja Klasis Wagamo ini bukanlah hanya kepada rohani saja diprioritaskan supaya tidak terantuk pada dosa, sebaliknya jasmani diprioritaskan juga supaya tidak mempengaruhi rohani. Itu sebabnya Gereja kita hari ini berada pada konteks zaman yang sedang berubah, maka sikap kita sebagai Gembala dan pemimpin Gereja terhadap pelayanan, bahwa kekayaan adalah bagian kepentingan dari hidupnya.
By: Pekeibo Senior
Langganan:
Komentar (Atom)
