
Lingkungan alam menurut Kamus Bahasa Indonesia menuliskan bahwa : ”Segala yang ada di langit dan di bumi, linghkungan kehidupan, sesuatu yang termasuk di lingkungan (golongan dsb.) dan dianganggap sebagai keutuhan pikiran tumbuh-tumbuhan”, (2001 : 25). Maksud dalam tulisan ini adalah bahwa lingkungan termasuk tumbuh-tumbuhan dan hewan-hewanan (flora dan fauna) yang ada di atas bumi merupakan ciptaan TUHAN yang unik (indah) untuk menunjang kebutuhan hidup manusia.
Kepekaan (keseriusan) orang tua terhadap lingkungan alam selain melestarikan (memelihara), tetapi juga sebagai ekonomi yang diharapkan sebelumnya, mulai dieksploitasi (pengurangan) lingkungan alam dengan berbagai cara. Kuras (pengurangan/habis sama sekali) lingkungan alam seperti kegiatan penebangan secara liar, pembakaran serta kerusakan lainnya adalah kejahatan manusia terhadap alam ciptaan TUHAN dan secara tidak sadar sedang membinasakan dirinya karena lingkungan hidup adalah bagian hidup manusia. Seperti yang dikatakan oleh James Maginnis bahwa :
”Tindakan tanpa kekerasan lebih luas daripada membiarkan orang hidup dengan tindakan tanpa kekerasan pertama-tama bersikat terhadap alam, langit, laut, tambang, udara, air dan rumah. Inilah barang-barang pertama yang harus dilengkapi tanpa kekerasan. Sungguh dosa yang mengerihkan yang anda perbuat di sekeliling anda, dan yang tidak tahu apakah anda masih diselamatkan atau tidak. Anda telah memperkosa hutan-hutan, mengotori laut, menjorah raja segala sesuatu seperti segerombolan bandit (penjahat/perusak), kalau ada kejadian langit atau laut ... anda semua atau hampir semua akan dihukum mati dan barangkali ada keadilan seperti itu. Pengadilan yang takterlihat. Sebab hukuman anda pasti anda tidak dapat bernafas menghirup udara anda. Makanan anda menjadi tidak sehat, kanker semakin mulai seru dan sering menyerang anda. Dan karena anda hampir sudah merusakkan segala-galanya anda telah menunjukkan berbagai santo (orang suci [laki-laki]) pelindung lingkungan anda harus mengaku”, (Maginnis, 1999:159).
Ungkapan dalam tulisan di atas menjadi kenyataan terhadap alam lingkungan ekslpoitasi terhadap lingkungan alam dapat dilaksanakan dengan cara seizin pemilik lokasi yang sedang mengawasi dan menjaganya. Dengan sikap dan tindakan ini orang memiskinkan orang lain yang adalah pemilik lingkungan akan menunjang peningkatan ekonomi dalam keluarga serta masyarakat.
Penulis ingatkan tindakan ELOHIM waktu air bah di zaman Nuh bahwa ketika air bah itu datang, berfirmanlah TUHAN kepada Nuh: ”Masuklah ke dalam bahtera itu, engkau dan seisi rumahmu, sebab engkaulah yang Kulihat benar di hadapan-Ku di antara orang zaman ini. Dari segala binatang yang tidak haram haruslah kauambil tujuh pasang, jantan dan betinanya, tetapi dari binatang yang haram satu pasang, jantan dan betinanya; juga dari burung-burung di udara tujuh pasang, jantan dan betina, supaya terpelihara hidup keturunannya di seluruh bumi. Dari segala yang hidup dan bernyawa datanglah sepasang mendapatkan Nuh ke dalam bahtera itu. Seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Nuh; lalu TUHAN menutup pintu bahtera itu di belakang Nuh.” (Kejadian 7:1-24). TUHAN adalah Penyelamat lingkungan alam atau lingkungan hidup. Oleh kejahatan manusia telah membangkitkan amarah TUHAN, tetapi Ia tidak musnahkan segala yang hidup dan bernyawa bersama-sama dengan air bah, masih mengasihi manusia dan lingkungan hidup yang adalah pemenuhan kebutuhan manusia pada umumnya dan kususnya Gembala dalam pelayanan TUHAN sehingga diselamatkan-Nya.
Penulis melihat suatu kasus yang pernah terjadi Klasis Wagamo baru-baru ini. Dengan adanya kedangan pengguna kayu dari berbagai bagian Tigi maupun masyarakat setempat menebang segala macam kayu baik yang besar maupun yang kecil yang belum sampai umur panen, menganggap bahwa tidak perlu melestarikannya karena itu adalah pohon atau tumtuh-tumbuhan liar bahkan kalau kita tebang, maka akan tumbuh kembali di alam lingkungan. Belum sadar bahwa TUHAN Pencipta telah memberikan mandat kepada kita untuk menjaga, memelihara, menyelamatkan dan melestarikan alam lingkungannya sebagai alat kelangsungan hidup manusia. Maka kini mulai terjadinya kerusakan lingkungan alam di tengah-tengah masyarakat dan Gereja Klasis Wagamo. Jika tidak ada kesadaran dari masyarakat Klasis Wagamo, maka akan menyebabkan kepunaan hutan akan terjadi dan mengakhibatan tanah gundul (botak) dan gersang. Dan hal itu mengundang menambahnya kebutuhan ekonomi Gembala dan Umat TUHAN di Klasis Wagamo Koordinator Paniai Selatan.
Sikap kita terhadap alam lingkungan yang diciptakan oleh ELIHIM sebenarnya adalah sangat relevan (bersangkut paut/sesuai), dengan maksud yang besar kepada manusia. Hubungan antara manusia dengan lingkungan alam sebenarnya tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lain. Berarti bahwa alam yang sangat besar ini diciptakan oleh TUHAN untuk manusia. Sebaliknya juga bahwa tidak mungkin TUHAN lebih dulu menjadikan bumi bila tidak ada rencana ELOHIM untuk menciptakan manusia dari tanah yang telah dijadikannya itu. Karena dibalik itu Ia memberi tugas kepada manusia sebagaimana A. A. Sitompul menuliskan:
”Hubungan manusia dengan alam sekitarnya sangat erat, bahkan dari pandangan ekologi tentang manusia dapat dikatakan bahwa manusia itu bergantung dari alam untuk hakekat (sebenarnya/sesungguhnya) esensi (pokok/hakikat) keberadaannya” (Sitompul, 2000 : 2).
Hubungan kita dengan lingkungan alam merupakan relasi (hubngan/pertalian) yang sangat sukar dipisahkannya, karena manusia mengalami kemanusiaan pun juga tubuh tetap kembali kepada alam ciptaan-Nya seperti Sitompul menuliskan bahwa:
”TUHAN mengangkat manusia dari segala ciptaan-Nya dan memberikan mandat kepadanya agar bertangggung jawab dihadapan TUHAN, kuasa yang diberikan-Nya itu dinyatakan sebagai berikut: ”taklukkanlah bumi, berkuasalah atas segala ...” Kejadian 1 : 28. Manusia diberi tugas untuk menata hidup baru, memberi makna bagi setiap makluk hidup, mengatur, membiakkan, mengelolah alam, menempatkan makluk hidup seperti ditempat dan menyediakan makanan yang membuat kelangsungan hidupnya. Tanggung jawab terhadap makluk hidup dan yang tidak hidup”, (Sitompul, 2000 : 3).
Alam ciptaan mengandung misterius (rahasia) yang sangat besar kaitannya dengan kelangsungan hidup manusia agar manusia mengelola, menata, dan melestarikan. Karena itu lingkungan alam yang terjadi ini merupakan kebutuhan kehidupan manusia yang unik. Kaitannya dengan gambaran umum di atas, penulis mencatat bahwa orang yang membongkar hutan dengan kesengajaan maupun tidak sengaja, secara sembarang dengan cara di bakar dan ditebang merusak apa yang diciptakan TUHAN itu dikategorikan sebagai orang-orang yang mengurangi ciptaan TUHAN yang unik bagi manusia. Untuk itu Gereja khususnya Klasis Wagamo harus dapat memahami terhadap apa tugas kita di bumi ini. Ia diberi tugas terhadap lingkungan alam ini seperti yang dikatakan oleh Alyanus Larosa:
”ELOHIM menugaskan manusia untuk mengusahakan dan memelihara alam semesta, Kejadian 2 : 25. Mengusahakan berarti memamfaatkan alam untuk kebutuhan kesejahteraan manusia. Memelihara berarti menjaga agar alam tak hancur, melainkan tetap lestari. Karena itu sebagai Gereja dipanggil untuk mewujudkan visi sosial dalam mengusahakan dan memelihara alam semesta ini, suatu perintah TUHAN bagi kita”, (Larosa 2001 : 85).
TUHAN menciptakan manusia dengan maksud tertentu yaitu memberikan tugas dan tanggung jawab terhadap alam lingkungan, memelihara. Jika demikian sebagai orang Kristen melihat dengan kaca mata iman Kristen terhadap lingkungan dengan visi yang jelas, bahwa lingkungan alam yang kita mendapat penghidupan adalah bagian dari ciptaan ELOHIM dan kepentingan manusia, lebih lagi hasilnya memenuhi kebutuhan ekonomi Gembala dalam pelayanan pemberitaan Firman TUHAN dan pelayanan sosial Jemaat. Dalam pengawasan pemeliaharaan lingkungan alam di atasi dengan berbagai kewajiban sesuatu yang dikatakan oleh John Stoot bahwa:
”Manusia mematuhi perintah ELOHIM suatu memenuhi dan melakukan bumi pada awalnya kemajuannya lambang. Dari mengumpulkan makanan ia beranjak meningkat menjadi petani, ia belajar mengelolah lahan, melindungi dengan daerah yang sudah dikelolanya itu hasilkan bumi untuk memberi pangan, sandang, binatang-binatang mamfaatnya untuk keperluannya dengan tujuan baik meringankan maupun menyenangkan hatinya. Lalu ia belajar mengetahui rahasia kekuatan-kekuatan yang tersimpan dalam benda-benda dan zat-zat alam yang diciptakan oleh ELOHIM”, (Stott, 2000 : 152).
Dengan maksud ELOHIM yang besar ini agar manusia menaati perintah-Nya terhadap pengawasan dari pemeliharaan lingkungan alam, untuk mengangkat nilai-nilai Kerajaan TUHAN dapat menghadirkan di bumi. Kasiat (manfaat yang khas yang terkandung di dalamnya) TUHAN berkaya terus dalam ekosistem yang bertumbuh dialah alam ini. Jika ada kerusakan alam lingkungan maka ada perlu visi untuk revitalisasi penghijauhan; sebagaimana Celia Dealne Droummond menuliskan bahwa:
”Pendekatan itu masih mendorong memperlakukan ciptaan sebagai sumber daya untuk ditata bagi kepentingan manusia Teolog-Teolog yang radikal (keras/kokoh/maju dan tajam dalam berpikir) berpendapat bahwa pengembalian suatu gaya hidup yang menghardik mencintai lingkungan untuk kepentingan pribadi lingkungan sendiri, merupakan bagian dari apa yang dimaksudkan sebagai gambar ELOHIM”, (Droummond, 2000 : 153 - 154).
Penjelasan di atas ini ada kaitannya dengan umat TUHAN Klasis Wagamo, agar mendorong untuk menghargai dan mencintai lingkungan alam merupakan bagian dari hidup yang tidak terlepas dari manusia. Untuk itu bagaimana visi Gereja hari ini, seperti Drouce Mitchell B. Setiawan Dwita Hadi Rahuni menuliskan : ”Disinilah letaknya bahwa tindakan yang diperlukan oleh pengelolah mesti, sesuatu yang dapat mencapai pemahaman yang terus merubah sekaligus tujuan sosial yang diinginkan”, (S. Dan Rahuni, 2000 : 235).
Ke depan ada dalam visi anda terhadap apapun yang diperbuatnya. Untuk itu dalam tulisan ini penulis menuliskan bahwa jika Gembala dan Pemimpinan Gereja lupa terhadap kepedulian lingkungan alam, maka perlu memiliki empat dimensi:
a. Bukalah mata terhadap alam lingkungan;
b. Jika ada niat jahat yang berusaha merusakkan lingkungan alam sadarlah kembali;
c. Jika ada konflik dengan lingkungan segera berdamai kembali;
d. Lalu menerima dan menghargai, cintai terhadap lingkungan alam sebagai bagian dari hidup.
By: Pekeibo Senior

Tidak ada komentar:
Posting Komentar