
Harta benda merupakan suatu barang dan jasa atau kekayaan yang dimiliki oleh setiap insan sebagai anugerah TUHAN bagi kelangsungan hidup manusia di atas dunia ini. Memiliki harta benda dan kekayaan tanpa memuliakan TUHAN dan tidak mengasihi sesamanya juga mengandung dosa sebagai mana tertulis di dalam Injil Lukas 16 : 18 – 27 ”Orang kaya sukar masuk Kerajaan TUHAN”, pasal 23 : 13 – 21 ”Orang kaya yang bodoh”, dan Lukas 16 : 19 – 31 ”Orang kaya dengan Lazarus yang miskin”.
Bukan berarti bahwa jikalau kita memiliki kekayaan, maka kita sukar masuk surga seperti orang kaya yang tadi. Tetapi yang dikatakan disini ialah bahwa karena orang kaya mengandalkan kekayaan dan kekuatannya sebagai sumber kehidupan sehingga melupakan TUHAN pemiliknya yang harus ditinggikan, dimuliakan, dibesarkan dan diterima dengan ucapan syukur bagi-Nya. TUHAN menguji iman orang kaya, :
”Kata YESUS kepadanya: ’Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku’. Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya”, (Matius 19 : 21, 22).
Ternyata TUHAN menemukan iman orang kaya itu bergantung dan mendasarkan kekayaan sebagai sumber kehidupannya.
Tidak seperti perwira dari Kapernaum yang iman dan perbuatan kasihnya disaksikan oleh tua-tua Yahudi kepada TUHAN YESUS dan YESUS sendiripun juga heran atas perkataan iman perwira itu, bahwa :
”... perwira itu menyuruh sahabat-sahabat untuk mengatakan kepada-Nya: ’Tuan janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku; sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu. Tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku akan sembuh. .... ’ Setelah YESUS mendengar perkataan itu, Ia heran akan dia, dan sambil berpaling kepada orang banyak yang mengikuti Dia, Ia berkata: ’Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel!”. (Lukas 7 : 1 - 10).
TUHAN YESUS tidak menemukan iman perwira dari Kapernaum itu bergantung dan mendasarkan kekayaan atau kedudukan dan pangkatnya sebagai sumber kehidupannya, tetapi seluruh kehidupan perwira itu lebih mengutamakan dan mentaati TUHAN daripada kekayaan atau kedudukan dan pangkatnya.
Pikiran yang memikirkan bahwa orang kaya sukar masuk Kerajaan TUHAN, pikiran seperti itu ditipu oleh Iblis, karena dia mencari lowongan baginya untuk mencobai dan menjatuhkan kita dalam kekurangan dan kemiskinan, supaya pada waktu kita tidak ada apa-apa, ia akan mendatangkan keinginan, jika keinginan itu berbuah maka akan melahirkan maut. Kekayaan yang dimiki oleh manusia yang percaya kepada YESUS atau Warga Gereja adalah pemberian TUHAN yang mengandung maksud tertentu seperti untuk memuliakan Nama TUHAN. Untuk lebih memuliakan TUHAN melalui harta yang kita peroleh dalam usaha dan pekerjaan kita, sebaiknya kita mengikuti cara-cara menghadapi masa-masa kekacauan perekonomian, hal itu seperti yang disarankan Larry Bathes bahwa :
”Akan tetapi kita memilih pilihan. Kita memiliki peluang untuk melindungi diri kita sendiri, bahkan menjadi berhasil (berlimpahan) di masa-masa kacaunya perekonomian, peluang itu adalah pengetahuan-pengetahuan bagaimana sistim ekonomi telah berkembang menjadi begitu rapuh (sudah rusak/sakit-sakitan) dan pengetahuan-pengetahuan tentang komponen-komponen pribadi mencakup di dalam sistem tersebut. Anda harus mengetahui bagaimana tidakan-tindakan sederhana dilindungi harta yang diberikan TUHAN kepadamu dan menjamin masa kedepan keuangan anda. Anda dan kelurgamu lebih stabil pengetahuan akan menjadi kunci kelangsungan hidup di masa kegoncangan”, (Bathes, 1998 : 146).
Seperti yang dikatakan oleh L. Bathes tersebut di atas sangat benar, tentang kesempatan bagaimana orang berpengetahuan mengerti, serta tindakan kita terhadap bagaimana cara mengembangkan harta benda kekayaan yang TUHAN berikan kepada warga Gereja di Klasis Wagamo. Penulis sangat mendukung dengan suatu gambaran yang diutarakan oleh Bathes, karena harta benda kekayaan itu tidak mempunyai mulut, pikiran, dan tangan, tetapi itu adalah suatu benda mati dan tidak berdosa. Melainkan mendatangkan baik buruknya atau mengundang surga dan neraka terletak pada manusia bagaimana cara memanfaatkannya.
Tidak berdosa, jikalau sebagian besar alam ciptaan TUHAN, Bapak kita menjadi milik kita. Malah itulah yang dikehendaki oleh TUHAN yang kita sebut ”Bapak” karena semuanya ciptaan ”Bapak kita” dan telah memberikan mandat kepada kita untuk menguasai, menata, mengelola dan menikmati dari hasil ciptaan TUHAN ”Bapak kita” itu. Tidak sangkut-paut dengan masuk surga atau neraka. Tetapi aku berdosa dan tidak akan masuk surga, ketika aku menjadikan alam ciptaan TUHAN menjadi dasar kehidupan dengan jalan melupakan TUHAN Pencipta.
Dari semua kekayaan yang dimiliki itu mengucap syukur dan rasa terima kasih atas berkat TUHAN yang telah diberikan sebagai sarana menunjang kebutuhan ekonomi Gembala di dalam pemberitaan Injil Klasis Wagamo dan di dalam kehidupan pribadi, keluarga, dan orang lain yang menunggu uluran tangan kita. Celaka yang paling berat akan dialami bagi mereka yang tidak mengandalkan TUHAN tetapi mengandalkan kekayaannya sekalipun ia mengatakan di mulutnya warga Gereja atau orang Kristen hatinya jauh, maka kata Firman TUHAN :
”Celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena kekayaan kamu telah memperoleh penghiburan”, Lukas 6 : 24. ”Tetapi haruslah engkau ingat kepada TUHAN, ELOHIM-mu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan, dengan maksud meneguhkan perjanjian yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, seperti sekarang ini. Tetapi jika engkau sama sekali melupakan TUHAN, ELOHIM-mu, dan mengikuti allah lain, beribadah kepadanya dan sujud menyembah kepadanya, aku memperingatkan kepadamu hari ini, bahwa kamu pasti binasa; seperti bangsa-bangsa, yang dibinasakan TUHAN di hadapanmu, kamu pun akan binasa, sebab kamu tidak mau mendengarkan suara TUHAN, ELOHIM-mu." Ulangan 8 : 18 – 20.
Sebagai anak-anak TUHAN Gembala Sidang dan Anggota Jemaat yang digembalakannya perlu menyadari bahwa sungguhpun mempunyai kekayaan yang berlimpah atau tidak memiliki sesuatupun dalam usaha hidupnya sehingga menimbulkan kebimbangan hari esok hidupnya sekalipun, harus ada di dalam hatinya bahwa: ”namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan KRISTUS yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak ELOHIM yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku”, (Galatia 2 : 20). Itulah yang TUHAN mau dari kita.
Sikap ketidakpedulian kita sebagai pemegang Gereja terhadap harta kekayaan selalu mempengaruhi maju mundurnya Gereja kini dan kedepan di Klasis Wagamo. Karena pertumbuhan Gereja dapat mempengaruhi dengan faktor jasmani. Hal itu sebagaimana J. S. Abineno menuliskan bahwa :
”Hidupnya bukan saja ia hidup di bidang ’rohani’ Religius tetapi juga di bidang ’jasmani’ (politik, sosial, kebudayaan, pendidikan, dll). Karena itu keduanya tidak boleh dipertentangkan dan meganggap di bidang lain. Hal ini jelas kita lihat dalam Doa Bapa Kami. Di Sorga dan di Bumi, ELOHIM dan Manusia, rohani dan jasmani, erat kebudayaan”, (Abineno, 1998 : 141 – 142).
Di dalam kehidupan Warga Gereja Klasis Wagamo ini bukanlah hanya kepada rohani saja diprioritaskan supaya tidak terantuk pada dosa, sebaliknya jasmani diprioritaskan juga supaya tidak mempengaruhi rohani. Itu sebabnya Gereja kita hari ini berada pada konteks zaman yang sedang berubah, maka sikap kita sebagai Gembala dan pemimpin Gereja terhadap pelayanan, bahwa kekayaan adalah bagian kepentingan dari hidupnya.
By: Pekeibo Senior

Tidak ada komentar:
Posting Komentar