ANDA HADIR UNTUK MENGHASILKAN BUAH

ANDA MEMBACA, ANDA JUGALAH YANG MENGERJAKANNYA

Rabu, 30 Desember 2009

B. TUHAN MENYEDIAKAN TANAH BAGI KELANGSUNGAN HIDUP MANUSIA.


Tanah ungkapan lain ialah “Eret” atau ”bumi”. Tanah adalah ciptaan TUHAN (Kej. 1 : 1). Tanah, diciptakan TUHAN pada hari pertama sebelum segalanya. Tanah sebagai tempat tinggal bagi manusia, tanah mempunyai arti yang fundamental (pokok) yang hakiki (yang pokok/kebenaran yang paling mendasar) bagi manusia. Tanah dijadikan oleh TUHAN sesuai dengan kemahatahuan-Nya, supaya manusia menjaga dan mengelola seisinya. Dalam suatu diskusi dengan seorang mahasiswa STT-Walter Post, yakni Menny Yogi mengatakan bahwa :

”Hubungan manusia dengan TUHAN sangat erat, karena manusia berasal dari debu dan kita ini bagian dari tanah sesuai dengan Kej. 1 : 7 untuk itu kita dapat mengangkat dan menghargai tanah, dan janganlah kita biarkan begitu saja secara polos kepada orang lain (Iblis). Kini masyarakat belum mengerti dan tidak peduli terhadap tanah, (Yogi, Asrama STT-WPJ, 28 April 2003).

Tanah sebenarnya bagian dari hidup manusia. Manusia hidup di atas tanah, manusia diciptakan oleh TUHAN dari tanah liat manusia juga hidup karena selalu menikmati hasil tanah dan akhirnya setelah manusia mati kembali menjadi tanah. Sebagaimana Karel Pill Errary menuliskan bahwa : ”Tanah Bukan milik manusia melainkan manusia adalah milik tanah” (1999 : 83), berarti bahwa manusia ada hubungan yang erat dengan tanah sebagai ciptaan TUHAN.
Tanah menurut filsafat suku Mee adalah ”MAMA” yang memberikan air susu kepada anaknya (manusia). Sebagai MAMA, ia menumbuhkan pepohonan, tumbuh-tumbuhan, tanaman, dan memelihara makhluk hidup yang ada di dalam air, di udara maupun di darat. Sebagai ”mama”, ia juga menyimpan dan menyembunyikan kekayaan alam atau barang yang berharga di dalam tanah, seperti: emas, mutiara, perak, tembaga, nikel, batu delima, batu permata, gas bumi/minyak bumi, dsb. untuk kelangsungan hidup manusia di bumi ini.
Belakangan ini tanah dijadikan sebagai objek bisnis dengan cara menjual beli sebidang tanah. Paling perlakuan ini dilakukan oleh orang Gereja Kemah Injil dan berkata: ”bukan kita disini tempat tinggal yang tetap, tetapi tempat kita adalah kota yang akan datang”. Ungkapan lain berkata bahwa ”kita tidak perlu sibuk dengan barang-barang duniawi tetapi sibuk untuk hal-hal yang surgawi”. Bumi yang kita hidup merupakan tempat kita dapat makan, minum, dan bumi sebagai tempat untuk manusia bertobat. Karena itu dipahami Warga Jemaat Klasis Wagamo, bahwa janganlah menjadikan objek bisnis untuk menjual belikan. Jika menjual tanah berarti menjual mama, mama berarti yang memberikan air susu sepanjang rentang garis keturunannya. Di dalam Alkitab Perjanjian Lama, TUHAN Pencipta tanah tidak mengijinkan untuk menjualbelikan, dalam Imamat 25:23 berfirman bahwa : ”Tanah jangan dijual mutlak, karena Akulah pemilik tanah itu, dan sedang kamu adalah orang asing dan pendatang bagi-Ku”. Jika kita simpulkan bahwa kalau kita menjual tanah berarati kita berdosa terhadap Pemilik tanah, karena Pemilik tanah tidak mengijinkan untuk dijual atau dijadikan objek bisnis.
Pada prinsipnya Yohanes 1 : 1, Kejadian 1 : 1. Pada mulanya ELOHIM menciptakan langit dan bumi serta segala isinya. ELOHIM menciptakan manusia dari debu tanah sesuai dengan Imagodei-Nya (Gambar/wujud-Nya) sendiri Kejadian 1 : 26 - 27. Kalau manusia itu berasal dari debu tanah, maka hidup manusia tidaklah terlepas dari tanah. Kemudian relasi manusia dengan tanah sangat erat. Pdt. Dr. Benny Giay dan Yafet Kambai menuliskan tentang riwayat hidup Yosepah Alomang dan ia mengatakan :

”Saya orang pribumi disini gunung salju disitu saya punya tempat lahir saya disini. Paitua ini orang dari suku Bela Alama disana, saya bilang kepada dia, tanah ini tidak boleh dijual. TUHAN ciptakan tanah ini untuk hak pakai, bukan untuk dijual”. (Benny dan Kambai, 2000:21).

Apa yang dikatakan ini benar karena tanah yang kita tumpangi bukan jual, melainkan hak untuk dipakai. Sangat mengatasi bahwa tanah sebagai lambang untuk kita dibesarkan, dipiara membawa kita dalam keberhasilan, berarti tanah sebagai ” MAMA” sebab mama sebagai pemberi kehidupan, yang memberi air susu dan dipelihara, dibesarkan diatasnya, manusia hidup diatasnya, melakukan sesuatu pekerjaan diatas tanah dan sebagainya. Karena itu memahami, mengerti, serta menyadari bahwa tanah kita, hidup kita, itu sebabnya tanah mempunyai fingsi yang cukup luas. Dapat disimak dalam penulisan ini bahwa : ”Barangsiapa menjual tanah, ia adalah seorang YUDAS. Apabilah niat-niat tertentu yang bermusuhan dengan tanah maka segera berdamai kembali sebab tanah adalah mamamu.”
Tanah ini dijadikan sebagai suatu tempat dimana Warga Gereja mengadakan usaha untuk dapat memproduksikan hasilnya untuk mendatangkan sesuatu yang dapat menolong serta mengantar kita dalam memenuhi kebutuhan ekonomi gembala dan pelayanan Sosial ekonomi bagi Jemaat yang perlu ditolong maupun pribadi dan keluarganya seperti kata Firman TUHAN:

”... bumi ini telah diberikan-Nya kepada anak-anak manusia. Dari satu orang saja Ia telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia untuk mendirikan seluruh muka bumi dan Ia telah menentukan musim-musim bagi mereka dan batas-batas kediaman bagi mereka” (Mazmur 115:16; Kisah Para Rasul 17 : 26).

Ayat tersebut di atas ini menunjukkan bahwa TUHAN telah membagi-bagikan wilayah ditempat kerja masing-masing, untuk mencari Dia di atas tanah, hidup di atas tanah. Lihatlah tanahmu sebagai mana anda, sebab itu bagian hidup kita di bumi.

By: Pekeibo Senior

Tidak ada komentar:

Posting Komentar